REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Tampaknya reaksi Iran terhadap perang AS-Israel melampaui ekspektasi pemerintahan Presiden Donald Trump, yang menurut Douglas Bendao, peneliti senior di Institut Pertahanan Cato, kini mulai kewalahan karena situasi yang semakin tak terkendali. Baik Trump maupun pejabat pemerintahannya tidak membayangkan bahwa Iran akan bertahan menghadapi serangan awal, dan mereka membangun posisi mereka berdasarkan keyakinan bahwa mereka akan mencapai semua hasil dalam waktu singkat, demikian kata Bendao dalam wawancara dengan Aljazeera, dikutip Kamis (19/3/2026). Kini, seiring dengan pembicaraan mengenai serangan terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr di Iran, perang tampak seolah-olah telah lepas kendali, menurut Bendao yang mendasarkan hipotesis ini pada permintaan Amerika Serikat akan bantuan dari pihak lain. Yang jelas—menurut pakar Amerika tersebut—adalah bahwa Washington tidak terlalu fokus pada serangan terhadap fasilitas nuklir Iran selama perang ini, melainkan lebih pada upaya menggulingkan rezim, namun mereka terkejut bahkan oleh serangan Iran terhadap negara-negara tetangganya yang tidak mereka duga, menurut sang pakar. Serangan di BushehrPada Selasa kemarin, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan Iran telah memberitahukan kepada mereka bahwa sebuah proyektil menghantam lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr, dan menambahkan bahwa tidak ada laporan mengenai kerusakan pada pembangkit tersebut atau korban di kalangan karyawan.