Dalam berbagai ruang —ritual, sosial, intelektual— banyak pihak berlomba merebut perhatian kesadaran manusia. Tauhid, dalam pengalaman ini, bukan sekadar konsep teologis, melainkan disiplin kesadaran. Kalimat tauhid menjadi laku hidup: la ilaha —menyadari banyak tuhan palsu yang berebut kuasa; illa—keberanian memilih; Allah—menetapkan orientasi nilai; dan Muhammad—menjadikan keteladanan sebagai jalan aktualisasi. Tanpa kesadaran tauhid, ruang digital justru menguatkan ego, bukan memperdalam makna. Dalam situasi itu, saya memilih memburu tauhid, bukan memburu ruang atau posisi mustajab.