Pesan itu disampaikan Psikolog dari Kementerian Sosial, Elizabeth Sentosa saat berkunjung ke rumah mahasiswa Universitas Gunadarma, Muhammad Farhan, 19, yang menjadi korban bullying di kampusnya. Farhan bukan autis atau ABK namun dia tetap korban bully," ungkapnya di rumah Farhan di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan, Rabu (18/7). Pelaku bullying, kata dia, biasanya juga berasal dari orang tua yang tidak harmonis atau tak ada komunikasi yang baik di dalam keluarga. Bully itu dari zaman dulu sudah ada namun semakin modern, supervisi orang tua sangat rendah dan pola asuh mengendur. Pasalnya mengeluarkan pelaku bully dinilai tak efektif dan bukan jalan keluar terbaik karena akan tetap menularkan pelaku bully yang baru.
Source: Jawa Pos July 19, 2017 23:48 UTC