Alasannya, ekonomi Indonesia masih mengandalkan ekonomi dalam negeri yakni konsumsi masyarakat dan investasi, sehingga dampak dari kebijakan luar negeri AS terhadap perekonomian Indonesia diharapkan marginal. Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, keluarnya AS dari TPP sebetulnya mengindikasikan potensi Indonesia untuk memperluas daerah tujuan ekspor menjadi ikut hilang. Namun demikian, menurutnya, masih banyak potensi yang dapat digali melalui hubungan perdagangan bilateral antara Indonesia dan AS. Meski begitu, Josua melihat ada potensi tantangan dari pembatasan produk Cina masuk ke AS khususnya untuk barang-barang dengan bahan baku yang Indonesia ekspor ke Cina. "Mengacu pada kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih potensial tercapai di kisaran 5,1-5,2 persen pada tahun ini," katanya.
Source: Republika January 24, 2017 13:31 UTC