MANILA, KOMPAS.com - Pemerintah Filipina menyatakan kemungkinan besar akan mengajukan tuntutan kepada perusahaan obat yang memproduksi vaksin demam berdarah, Sanofi. Perusahaan obat-obatan yang bermarkas di Perancis itu menyampaikan pada akhir pekan lalu, vaksin demam berdarah Dengvaxia dapat memperburuk gejala pada orang yang pertama kali terjangkit penyakit itu. Padahal, Filipina telah menjalankan program imunisasi massal dengan vaksin tersebut pada tahun lalu dan telah memberikan Dengvaxia pada lebih dari 733.000 warganya. Pengumuman tersebut tak pelak membuat pemerintah Filipina berang dan segera menghentikan program imunisasi demam berdarah pertama di dunia dan menghentikan penjualan vaksin itu. Sanofi telah berusaha meredakan kekhawatiran dengan mengatakan vaksin Dengvaxia tidak akan menyebabkan orang yang telah diimunisasi meninggal dan tidak akan menyebabkan infeksi.
Source: Kompas December 07, 2017 09:33 UTC