REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Wacana pencabutan insentif kendaraan listrik dinilai perlu dikaji secara hati-hati, terutama di tengah dinamika geopolitik global yang kerap memicu fluktuasi harga minyak mentah dan berdampak pada beban impor bahan bakar minyak (BBM) Indonesia. Ia membandingkan kondisi tersebut dengan industri kendaraan berbahan bakar fosil yang telah lebih matang dan memiliki pengalaman panjang dalam menyesuaikan strategi penjualan di tengah tekanan ekonomi. “Berbeda dengan mobil berbahan bakar fosil, seperti Toyota, Mitsubishi, dan lain-lain. Ibrahim menilai jika insentif kendaraan listrik dihentikan dan perlakuan pajaknya disamakan dengan kendaraan berbahan bakar minyak, hal tersebut berpotensi memengaruhi minat masyarakat. “Ketika insentif dicabut dan pajak mobil listrik disamakan dengan pajak mobil berbahan bakar fosil, kemungkinan besar harganya akan menjadi lebih mahal sehingga berpotensi ditinggalkan konsumen,” ucapnya.
Source: Republika December 31, 2025 06:42 UTC