Pada 1950, anak cucu mereka menikah dan menetap, hingga populasi Muslim di Selandia Baru mencapai 200 orang. Tapi sejak 2001, populasi Muslim di Selandia Baru telah meningkat 52,6 persen. Peneliti dan Psikolog dari Universitas Victoria, Jaimee Stuart, mengatakan pemuda muslim ingin merasa berada di rumah sendiri ketika berada di Selandia Baru. “Ketika kami direpresentasikan sebagai orang gila di media, dan hanya ingin berteriak Allahu Akbar di jalan,” kata Hela Rahman, pemuda Muslim Selandia Baru. “Itu menciptakan perpecahan antara Muslim dan komunitas umum Selandia Baru, antara pemuda Muslim dan komunitas pemuda umum," katanya menambahkan.
Source: Republika March 16, 2019 05:37 UTC