"Atau tidak ketemu dengan temannya untuk mengekspresikan semua kegiatan dan sebagainya," ujarnya. Faktor itu membuat emosi mereka menjadi pemicu meledaknya emosi si anak hingga melakukan tindakan yang terkadang menjurus ke kriminal. Pasalnya, saat ini tak banyak wadah bagi si remaja itu untuk menyalurkan energi berlebihnya itu. Dan mungkin tekanan tekanan baik di dalam keluarga maupun di lingkungan," sebutnya. Harapnya, pemerintah memiliki tugas untuk bisa menyediakan tempat bagi si anak menyalurkan aktivitas dan mengekspresikan semua perasaannya atau emosi dengan cara berkarya.
Source: Koran Tempo April 12, 2022 11:24 UTC