Berbagai kekuatan politik dan kelompok-kelompok strategis dalam masyarakat berlomba-lomba memainkan sentimen agama, ras, etnis, dan jender untuk menggolkan agenda-agenda politiknya. Politik identitas mengacu pada kecendrungan orang-orang dari latar belakang tertentu untuk membentuk aliansi politik, sementara menjauh dari politik partai koalisi tradisional. Politik identitas umumnya mengacu pada subset politik dimana kelompok orang dengan identitas ras, agama, etnis, sosial atau budaya yang sama berusaha untuk mempromosikan kepentingan khusus mereka sendiri. Mobilisasi pemilih yang didasarkan pada kesamaan identitas suku, agama, budaya, bahasa, dan wilayah merupakan hasil dari pilkada secara langsung. Politik identitas adalah sesuatu yang bersifat hidup atau ada dalam etnis, dimana keberadaannya bersifat potensial, dan sewaktu-waktu dapat muncul ke permukaan sebagai kekuatan politik yang dominan.Pemilu presiden 2014 merupakan gambaran vulgar bagaimana politik identitas dioperasikan.
Source: Jawa Pos April 18, 2022 23:13 UTC