Krisis Selat Hormuz, Antara Ketahanan Energi dan Janji Net Zero Emission - News Summed Up

Krisis Selat Hormuz, Antara Ketahanan Energi dan Janji Net Zero Emission


Oleh : Oleh Leonard Tiopan Panjaitan, MT, CSRA, CGPS, CPS (Konsultan ESG-Keberlanjutan & Produktivitas di Trisakti Sustainability Center–TSC, Anggota IS2P)REPUBLIKA.CO.ID, Pada 28 Februari 2026, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang seketika mengubah peta risiko energi global. Menurut International Energy Agency (IEA) dalam Oil Market Report edisi Maret 2026, sekitar 20 juta barel minyak per hari mengalir melewati perairan ini. Tepat pada 1 Maret 2026—sehari setelah Selat Hormuz secara efektif tertutup—harga menembus 88 dolar AS per barel. Puncak krisis terjadi pada 9 Maret 2026 saat harga Brent menyentuh 119,5 dolar AS per barel, menandai level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Bagi Indonesia, dentang alarm ini bukan sekadar berita mancanegara, melainkan tamparan keras terhadap kebijakan energi nasional yang selama ini abai terhadap risiko struktural.


Source: Republika March 27, 2026 13:13 UTC



Loading...
Loading...
  

Loading...

                           
/* -------------------------- overlay advertisemnt -------------------------- */