REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan mengingatkan krisis tidur dapat mengganggu kesehatan fisik, kognisi, kesejahteraan mental, produktivitas, hingga meningkatkan risiko kematian pada kelompok usia menengah hingga lansia. Survei global ResMed 2025 yang melibatkan 30.026 responden di 13 pasar menunjukkan krisis tidur global dengan banyak orang melaporkan kualitas tidur buruk dan gangguan yang memengaruhi produktivitas. Analisis lain, katanya, menemukan bahwa kualitas tidur yang lebih baik dikaitkan dengan penurunan risiko kematian pada kelompok usia menengah ke lansia, menegaskan nilai intervensi tidur. Yakni waktu tidur total, latensi tidur atau waktu untuk tertidur, frekuensi terbangun malam, efisiensi tidur persentase waktu di tempat tidur yang dihabiskan untuk tidur, serta kepuasan subjektif. Misalnya targetkan 7–9 jam tidur per malam untuk dewasa, batasi layar satu jam sebelum tidur, jaga konsistensi jam tidur, atur pencahayaan malam agar ritme sirkadian terjaga, dan menjaga konsistensi jadwal tidur.
Source: Republika March 14, 2026 16:28 UTC