Namun, sebagian orang merasa enggan dan malas untuk kembali bekerja dan masih terkena sindrom liburan. Psikiater Departemen Kesehatan Jiwa Masyarakat Rumah Sakit Jiwa Dr Soeharto Heerdjan (Grogol) Jakarta Nova Riyanti Yusuf, mengungkapkan keengganan seseorang untuk kembali bekerja setelah liburan bukan karena malas. Perubahan pola bekerja yang dia maksud seperti suasana kantor kadang lebih permisif, tidak setegang sebelum bulan Ramadhan. "Ini ditambah lagi cuti bersama 10 hari, maka khusus tahun ini akan lebih berat untuk kembali beraktivitas," ujarnya. "Terasa berat karena ada 'negative thoughts' atau 'automatic thinking' bahwa kembali bekerja akan menderita, akan banyak kejar deadline," ujarnya.
Source: Republika July 02, 2017 09:33 UTC