Kelompok masyarakat ini lebih memilih menginvestasikannya pada aset yang likuid seperti emas dan deposito. Sebab, kata Enggar, emas dianggap sebagai instrumen investasi yang likuid dan terjamin. "Tapi jual beli emas ini tidak mendorong perputaran ekonomi." Pada pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa waktu lalu, konsumsi rumah tangga minus 5,51 peren (year-on-year/yoy) pada triwulan II 2020. Dari semula sekitar Rp 800-an per gram, saat ini telah nangkring di atas Rp 1 juta per gram.
Source: Koran Tempo August 13, 2020 10:52 UTC