Fakta itu benar-benar membuka mata kita bahwa lambat laun bahasa lokal yang nir penutur semakin banyak. Maka jelas, menjadi Indonesia, menjadi nasional, tidak lantas muradif dengan menanggalkan yang lokal: termasuk bahasa. Joshua Fishman (1991), seorang pakar sosiolinguistik terkemuka, membuat gradasi atau skala yang berguna untuk mendiagnosis tingkat dan sebab kepunahan bahasa. Bahasa yang masuk kategori kuat menempati skala nomor 1, sementara bahasa yang sudah punah menempati skala terendah, yakni nomor 10. Sebab, kita bisa menguasai sebuah bahasa asing secara gramatikal dengan fasih, namun itu tidak lantas kita juga memahami budaya dan seperangkat aspek pragmatik sebuah bahasa tersebut.
Source: Jawa Pos January 19, 2020 04:30 UTC