“Terus terang saya cukup surprise dengan hasil kinerja ekspor industri pengolahan nonmigas saat ini. Selanjutnya, industri alat angkutan lainnya, naik 74,15 persen dengan nilai ekspor US$ 131,83 juta; industri peralatan listrik, naik 50,39 persen dengan nilai ekspor US$ 383,55 juta, dan industri tekstil, naik 45,38 persen dengan nilai ekspor US$ 271,38 juta. Berikutnya, industri barang galian bukan logam, naik 44,19 persen dengan nilai ekspor US$ 83,85 juta; industri kendaraan bermotor, trailer, dan semitrailer, naik 37,98 persen dengan nilai ekspor US$ 223,69 juta; industri pakaian jadi (naik 37,90 persen dengan nilai ekspor US$ 561,76 juta; industri komputer, barang elektronik, dan optik, naik 36,79 persen dengan nilai ekspor US$ 520,11 juta; serta industri karet, barang dari karet, dan plastik, naik 35,95 persen dengan nilai ekspor US$ 486,36 juta. Sementara, sektor-sektor yang mengalami peningkatan ekspor di atas 30 persen dari periode tahun sebelumnya antara lain industri furnitur yang naik sebesar 80,87 persen dengan nilai ekspor US$ 164,70 juta, kemudian industri farmasi, produk obat kimia, dan obat tradisional, naik 42,41 persen dengan nilai ekspor US$ 58,37 juta. Disusul industri pengolahan tembakau, naik 42,38 persen dengan nilai ekspor US$ 104,23 juta; industri pencetakan dan reproduksi media rekaman, naik 41,38 persen dengan nilai ekspor US$ 2,55 juta, serta industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki, naik 40,76 persen dengan nilai ekspor US$ 433,07 juta.
Source: Koran Tempo July 21, 2020 05:26 UTC