Gema takbir yang semalaman mengalun dari menara ke menara perlahan mereda, digantikan oleh deru langkah ribuan pasang kaki yang bergerak ke segala arah. Para peziarah melangkah pelan di antara nisan-nisan, membawa bunga rampai, membawa nama-nama yang selalu mereka sebut dalam shalat, dan membawa rindu yang tidak cukup hanya diungkapkan dengan kata. Bunga Rampai dan Kearifan yang Tak TercatatDi pintu-pintu masuk pemakaman, para pedagang bunga rampai sudah berdiri jauh sebelum matahari benar-benar tinggi. Ia adalah titik temu antara tradisi spiritual dan kebutuhan praktis, antara hajat batin para peziarah dan kebutuhan perut para pedagang. Namun bagi mereka yang menggantungkan hidup pada lapak sederhana di pinggir jalan, angka itu adalah selisih antara cukup dan kurang.
Source: Republika March 23, 2026 09:23 UTC