Hal itu mengakibatkan jumlah utang bertambah hingga 11 persen dari Januari hingga Agustus, dan diprediksi sampai akhir tahun pertumbuhan utang mencapai 13 persen. ''Sementara itu pemanfaatan utang masih belum optimal,'' kata peneliti Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira, saat dihubungi, Kamis (21/9). Menurut dia, belum optimalnya pemanfaatan utang tercermin dari realisasi belanja modal yang rendah. ''Kalau utang bertambah terus sementara serapan belanjanya rendah, akhirnya SAL akan bengkak, ada utang yang mubazir,'' tambah Bhima. Belajar dari 2015 dan 2016, serapan belanja modal hanya 78 persen dan 80 persen.
Source: Republika September 21, 2017 07:07 UTC