REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat komunikasi Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menilai pernyataan Presiden Perancis, Macron, terkait karikatur Nabi Muhammad sungguh menyanyat dan melukai hati umat Islam. Atas dasar itu, Macron menilai Islam dalam konotasi negatif, Islam diidentikan dengan kekerasan, bahkan teroris. Macron beranggapan nilai yang dianut bangsanya lebih baik daripada nilai yang dianut Islam," ujar Jamiluddin dalam keterangan tertulisnya, Jumat (6/11)Sebaliknya, kata Jamiluddin, Macron ingin menggambarkan bangsanya penganut demokrasi, anti kekerasan, dan pembawa perdamaian. "Itulah sebabnya, mengapa Macron menilai negatif terhadap seorang Islam yang melakukan pembunuhan atau perilaku kekerasan lainnya," ungkap Jamiluddin. Menurutnya, selama Macron masih bersikap etnosentris dan prasangka demikian, maka komunikasi yang dibangun tidak akan pernah positif.
Source: Republika November 06, 2020 19:18 UTC