Belanja bulan puasa kini mengikuti logika komoditi (logic of commodity), di mana konsumsi menjadi bagian konstruksi tanda dalam masyarakat konsumer. Puasa menjadi bagian masyarakat konsumer (consumer society), di mana perang identitas di antara kelas-kelas sosial diperlihatkan melalui citra barang konsumsi. Menahan godaan puasa dalam masyarakat konsumer menuntut kekuatan ekstra, karena di dalamnya sistem seduksi dan komunikasi kapitalistik secara intensif membujuk kita untuk memacu konsumsi. Ironisnya, bulan puasa di era globalisasi justru adalah “bulan konsumsi”, di mana intensitas, kuantitas dan kualitas konsumsi meningkat: cara belanja lebih kompleks, tema belanja lebih bervariasi, dan citra produk lebih terdiferensiasi. Melalui puasa, kita “melawan” kekuatan hasrat untuk mengejar kesenangan dan hedonisme, demi membangun empati dan solidaritas sosial.
Source: Koran Tempo June 05, 2016 10:52 UTC