REPUBLIKA.CO.ID, Dua tahun setelah kematian ayahnya, Michinomiya Hirohito naik takhta sebagai raja Jepang 124 di garis kekaisaran pada 660 Sebelum Masehi. Hirohito memerintah orang-orang Jepang dalam monarki absolut yang kekuatannya yang tetap tajam terbatas dalam praktek. Setelah AS bom atom menghancurkan kota Jepang Hiroshima dan Nagasaki, Hirohito memutuskan untuk menyerah negaranya. Ia menjelaskan kepada orang-orang Jepang dalam pidato radio pertama kalinya bahwa sesuatu yang tak tertahankan harus tetap dijalani. Di bawah pendudukan AS dan rekonstruksi pascaperang, Hirohito secara resmi dilucuti kekuasaannya dan dipaksa untuk meninggalkan keagungan kaisar.
Source: Republika November 11, 2016 01:58 UTC