Namun, yang menarik, mereka yang berada di kelas ekonomi rendah cenderung merokok lebih banyak dan mengalokasikan dana yang lebih besar untuk rokok dibandingkan kebutuhan pokok lainnya (Susenas Maret 2024, BPS). Di mana belanja rokok mingguan bisa mencapai 22% dari total pengeluaran, angka yang lebih tinggi daripada pengeluaran untuk beras (19%). Selain faktor ekonomi, data menunjukkan bahwa konsumsi rokok menjadi penyumbang terbesar kedua terhadap garis kemiskinan, dengan kontribusi sekitar 10% baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Tingginya prevalensi perokok dewasa (28,70%) dan remaja (3,68%) menunjukkan bahwa konsumsi rokok bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga faktor ekonomi yang memperkuat kemiskinan keluarga(susenas maret 2025). Beberapa poin progresif dalam regulasi ini antara lain: Melarang penjualan rokok secara batangan, sebuah praktik yang selama ini memudahkan anak-anak dan perokok miskin mengakses rokok.
Source: Media Indonesia March 14, 2026 20:25 UTC