Tak lagi hanya untuk menandai telah masuknya waktu salat, tapi juga untuk menandai siapa penista agama Islam. Untuk memuji Allah dalam salat, zikir, dan doa, saya masih membutuhkan alat bantu dengar. Memang tidak etis bicara soal kualitas vokal muazin, tapi setidaknya perlu didengarkan betapa kita memiliki persoalan pada kecakapan memakai alat pengeras suara, baik itu mikrofon maupun volume. Let the loud speaker speaks loud inside, lantangkanlah kata hati kita di dalam hati kita untuk menzikirkan keagungan Allah. Lebih dari sekadar toa, pengeras suara, kita membutuhkan alat bantu dengar.
Source: Jawa Pos August 24, 2018 10:07 UTC