Keutamaan dalam sepak bola itu juga menyeret filsuf jempolan asal Prancis yang memiliki darah Aljazair, Albert Camus. Albert Camus mungkin satu-satunya sastrawan yang pernah mengatakan, bahwa ia mendapatkan pelajaran moralitasnya dari olahraga. Yaitu, sebuah perjuangan keras yang justru untuk melahirkan sebuah dunia bersama, baik untuk tim yang bertanding atau pun pendukungnya. Stadion pun tak ubahnya menjadi altar (medium) ibadah para suporter kepada klub tercinta, sebagai bentuk bermuaranya ekspresi kemanusiaan yang disuarakan oleh banyak suporter. Tapi nasi sudah menjadi bubur, penyesalan yang berlarut tak dapat menghadirkan jalan keluar untuk menghentikan kultur kekerasan dalam suporter Indonesia.
Source: Republika September 24, 2018 21:00 UTC