REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Krisis di Selat Hormuz kian memanas setelah serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Akibatnya, lalu lintas di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara‑negara Teluk Persia ke pasar global, terhenti secara de facto. Presiden AS Donald Trump berupaya mendorong sekutu Eropa dan mitra di dunia Arab untuk bergabung dengan AS dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz. Perdana Menteri Keir Starmer menyatakan bahwa rencana untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz harus dilakukan melalui aliansi mitra, bukan sebagai misi NATO. Swedia tidak melihat perlunya peran apa pun dari negaranya dalam memastikan keamanan jalur pelayaran Selat Hormuz.
Source: Republika March 17, 2026 09:04 UTC