Bangunan tersebut akan menghalangi aliran kanal Tambru Khal, yang mengancam lebih dari 5.000 pengungsi Rohingya yang tinggal di Ghumdhum dengan bencana banjir. Pemimpin Rohingya, Dil Mohammad, mengatakan kepada kantor berita Anadolu, pembangunan itu adalah taktik baru tentara Myanmar untuk mengusir warga Rohingya yang tinggal di sana. Mahfuzur Rahman Akand dari Universitas Rajshahi mengatakan sangat disayangkan jika Myanmar berusaha untuk melemahkan kehidupan para pengungsi Rohingya bahkan di luar wilayah negara. Menurut Amnesty International, lebih dari 750 ribu pengungsi Rohingya, sebagian besar perempuan dan anak-anak, telah melarikan diri dari Myanmar. Sekitar 18 ribu perempuan dan anak perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar.
Source: Republika January 13, 2019 11:37 UTC