Apalagi diterjemahkan dalam bahasa Indonesia yang kosa katanya masih miskin,” kata Gus Mus dalam wawancara khusus dengan Tempo, Kamis malam (5 Januari 2017). Seperti zaidun qoimun, inna zaidan qoimun, qoma zaidun, yaqumu zaidun, zaidun qoma, zaidun yaqumu, inna zaidan laqoimun, inna zaidan yaqumu, kana zaidun qoimun dan masih banyak sekali. “Padahal, nuansa dan kandungan di dalam ayat suci Al-Qur’an itu sangat banyak sekali,” kata Gus Mus. Gus Mus khawatir jika umat Islam memahami Alquran hanya melalui terjemahan maka berpotensi akan menimbulkan salah kaprah. Kata Gus Mus, jika ada orang bilang, kembali ke Alquran, maka jangan hanya dimaknai kembali ke Alquran terjemahan Kementerian Agama.
Source: Koran Tempo January 15, 2017 00:49 UTC