TEMPO.CO, Jakarta - Face shield banyak dipilih orang untuk menggantikan masker yang dianggap tidak nyaman, panas, dan menyulitkan bernapas. Inilah alasan staf rumah sakit dan orang-orang di area berisiko tinggi terkena COVID-19 mengenakan masker dan face shield secara bersamaan. Menurut peneliti, face shield menghentikan percikan tetesan setelah bersin atau batuk dan tetesan itu kemudian bergerak melintasi pelindung dan menyebar ke sisi dan bawahnya, memasuki lingkungan sekitarnya. Para peneliti mengamati masker berkatup yang menurut produsen lebih nyaman untuk bernapas dan sama amannya dengan masker biasa. Jadi setiap kali Anda bernafas, jika Anda terkena virus, virus itu dikirim ke luar masker, ke tempat terbuka.
Source: Koran Tempo September 04, 2020 13:07 UTC