Sebab, pemilih di DKI Jakarta merupakan para pemilih yang rasional sehingga elektabilitas tidak bisa terukur dari populernya pasangan calon. Kalau di Jakarta otomotasi menang, tingkat kesukaan memang modal, tapi tidak bisa terkonversi karena lektabilitas tak bisa terukur," ujar Hanta di Jakarta, Sabtu (12/11). Namun, kemantapan pemilih juga rendah, sehingga pemilih yang berpindah pilihan pun masih tinggi. Untuk Sosiologis bisa dilihat dari pemilih yang memilih pasangan calon karena memiliki kesamaan asal daerah atau agama. Sementara psikologis dilihat dari situasi hati kepada pasangan calon, sebagai contoh adalah ketampanan dari pasangan calon tersebut.
Source: Republika November 12, 2016 17:18 UTC