REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Kepala Bidang Sosial Dinas Soial, Tenaga dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Tasikmalaya, Beti Badrawati mengaku kesulitan menjinakkan kupu-kupu malam alias pekerja seks komersil (PSK) di Kota Santri tersebut. Alasannya, selain tidak mencukupinya dana pembinaan, sulitnya memberantas aktivitas PSK lantaran mereka rendahnya keinginan mereka menekuni pekerjaan hasil pembinndaan dari Dinsosnakertrans. Beti mengatakan Dinsosnakertrans sebenarnya rutin mengadakan pembinaan terhadap PSK yang terjaring razia setiap tahu. Pada 2015 dialokasikan untuk pembinaan eks narapidana, dan 2016 untuk gelandangan dan pengemis (gepeng). Dikatakan Beti, pola pikir para PSK sulit diubah lantaran karena selalu ingin memperoleh uang besar dari hasil menjadi menjual diri.
Source: Republika January 14, 2017 15:04 UTC