"Habibienomics adalah peningkatan keterampilan pekerja tidak saja dalam tingkatan insinyur, tetapi juga politeknik dan STM dan bahkan tingkat pendidikan yang lebih rendah lagi," katanya. Orientasinya lebih pada perdagangan antar produk manufaktur yang terdiferensiasi serta mengurangi ketergantungan pada perdagangan karena perbedaan negara dalam upah buruh dan sumber daya alam. Pengertian keunggulan kompetitif, lanjut Juoro, adalah dinamika persaingan yang lebih ditentukan oleh produk dan proses baru karena inovasi teknologi, bukan semata-mata persaingan harga. Ketua Dewan Direktur Center for Information and Development Studies (CIDES), Umar Juoro menyebut, dampak penerapan Konsep Habibienomics tidak sekadar meluaskan pengembangan industri berteknologi canggih, tetapi dapat mencakup dimensi pemerataan pembangunan. Aplikasi konsep Habibienomics akan membantu pemerintah di masa kini agar lebih fokus mengembangkan industri padat karya dari keunggulan komparatifnya, lalu memberi prioritas pada industri tertentu.
Source: Republika June 25, 2016 02:03 UTC