REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Syukur adalah akhlak mulia, yang muncul karena adanya rasa kecintaan dan keridhaan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala, Sang Pemberi Nikmat. Ibnu Qayyim dalam kitabnya, Thariq al Hijratain, mnjelaskan bahwa hakikat syukur adalah mengkui nimat Sang Pemberi Kenikmatan dengan penuh ketundukan dan kecintaan kepada-Nya. Barangsiapa tidak menyadari adanya nikmat, maka dia tidak dianggap bersyukur. Baarangsiapa yang menadari adanya nikmat namun tidak mengenal siapa pemberinya, maka dia tidak dianggap bersyukur. Barangsiapa yang menyadari adanya nikmat dan mengetahui Sang Pemberi nikmat namun dia mengingkarinya, maka dia juga dianggap tidak bersyukur4.
Source: Republika December 15, 2017 17:15 UTC