REPUBLIKA.CO.ID NICE -- Kelompok ISIS mengklaim pria keturunan Tunisia yang menabrakkan truknya ke kerumunan massa di Nice Prancis sebagai seorang tentara. Namun, pernyataanya mengutip anggota keamanan kelompok tersebut, pelaku serangan di Prancis menuruti imbauan ISIS untuk menarget negara yang menyerang kelompok tersebut. Prancis menetapkan tiga hari berkabung karena peristiwa serangan di Nice tersebut. Klaim yang diterbitkan melalui media sosial tersebut tidak menyebut Mohamed Lahouaiej Bauhlel, 31 tahun yang menurut otoritas menjadi pelaku teror tersebut. Dilansir Arab News, Bouhlel diketahui sebagai warga bermasalah, pria pemarah yang tak terlalu tertarik dengan kelompok ultra-puritan yang mengatasnamakan Islam.
Source: Republika July 16, 2016 14:48 UTC