Kemampuan siswa di Indonesia dalam tiga tahun terakhir justru melorot, karena dalam PISA 2015 Indonesia berada di posisi 62 dari 72 negara. Penyebabnya, ternyata selama ini Indonesia tidak memiliki cetak biru pendidikan sehingga segala kebijakan terkesan tambal sulam, hanya untuk menghabiskan anggaran dan mengabaikan mutu pendidikan. Kemudian dalam PISA 2018, Singapura berada pada posisi kedua. Sementara untuk guru, Ramli menuturkan, Singapura memilih orang-orang terbaik yang diberikan beasiswa untuk menjadi guru. Untuk sampel PISA 2019 ini, OECD memilih 400 sekolah yang tersebar di seluruh provinsi.
Source: Suara Pembaruan December 04, 2019 06:45 UTC