Subarkat (64), di usianya yang tak lagi muda, menyiasati keterbatasan lahan di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung dengan memanfaatkan kaplingan tanah yang belum dibangun untuk berkebun semangka. Usahanya berkebun, seakan berpacu dengan derasnya pembangunan perumahan di sekitar kawasan itu. Bagi Subarkat sendiri, di usia yang melewati setengah abad tak menyurutkan niat untuk bercocok tanam, dia berkeinginan untuk berkebun hingga akhir hayatnya. Masih banyak tempat yang bisa dimanfaatkan," ujar Subarkat yang juga menganut sistem tumpang sari. Subarkat menjadi potret petani yang tidak memiliki lahan sendiri, namun terus bertahan di tengah gencarnya alih fungsi lahan di Tanah Air.
Source: Kompas May 26, 2018 12:45 UTC