Oleh Lukman Hakiem*Dalam sebuah diskusi terbatas mengenai buku karya Victor Tanja, "Himpunan Mahasiswa Islam Sejarah dan Kedudukannya di Tengah Gerakan-gerakan Muslim Pembaharu di Indonesia" (Jakarta, Sinar Harapan, 1982) di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, seorang pembicara mengeritik tokoh-tokoh Masyumi. Menurut si pengkritik, tokoh-tokoh Masyumi itu cuma bicara saja, kerjanya cuma mengeritik pemerintah, tidak pernah berbuat kongkret untuk umat. Si pengkritik kemudian menunjuk contoh keikutsertaan tokoh-tokoh Masyumi menandatangani Petisi 50 yang menyebabkan mereka dimusuhi oleh pemerintah Orde Baru dan makin tersingkir dari pentas politik nasional. Seluruh penandatangan Petisi 50 dibunuh hak-hak sipilnya: tidak boleh bepergian ke luar negeri, tidak boleh bekerja di lembaga-lembaga negara dan pemerintah, tidak boleh mendapat fasilitas kredit dari bank pemerintah atau swasta, bahkan tidak boleh berada di satu ruangan dengan Presiden dan Wakil Presiden. Si pengeritik menyesali benar keikutsertaan tokoh-tokoh Masyumi menandatangani Petisi 50 itu.
Source: Republika October 04, 2017 01:30 UTC