Ia mengatakan akan membunuh 260 orang disabilitas di dua area di fasilitas itu selama jam kerja malam hari. Pelaku menyerang korban saat mereka dalam keadaan tidur. "Tujuan saya adalah dunia di mana orang-orang disabilitas bisa melakukan eutanasia, dengan persetujuan wali mereka, jika mereka tak mampu untuk tinggal di rumah dan aktif di masyarakat," kata Uematsu dalam suratnya kepada anggota majelis rendah di Kyodo. Staf di fasilitas menelpon polisi pada pukul 02.30 dini hari waktu setempat. Sementara 25 lainnya mengalami luka-luka, dalam insiden pembunuhan massal terburuk di Jepang sejak Perang Dunia II itu.
Source: Republika July 27, 2016 00:11 UTC