Silmy mengatakan proyek blast furnace diinisiasi pada 2008 dan memasuki masa konstruksi pada tahun 2012, jauh sebelum ia bergabung di Krakatau Steel pada akhir tahun 2018. Adapun satu calon mitra lainnya sudah menyampaikan surat minat untuk bekerja sama ihwal Blast Furnace. "Artinya sudah ada solusi atas proyek Blast Furnace. Utang tersebut, kata Erick, terjadi salah satunya karena investasi US$ 850 juta kepada proyek blast furnace yang hari ini mangkrak. Langkah pertama adalah membuat subholding untuk kawasan industri yang ada di Krakatau Steel agar terintegrasi untuk air, listrik, hingga lahan.
Source: Koran Tempo September 28, 2021 11:15 UTC