Sektor tersebut mampu berperan sebagai shock absorber saat terjadi krisis energi global. “Krisis harga minyak ini jelas akan menekan perekonomian Indonesia melalui peningkatan biaya energi, tekanan fiskal akibat subsidi, serta pelemahan nilai tukar. Depresiasi rupiah dapat meningkatkan pendapatan ekspor dalam rupiah, sementara struktur biaya domestik relatif tidak berubah karena sebagian besar berbasis lokal. “Pemerintah tidak boleh menyerah terhadap tekanan krisis harga minyak ini karena kita memiliki natural hedge. Didik menyimpulkan, krisis harga minyak seharusnya tidak hanya dipandang sebagai beban, tetapi juga sebagai momentum untuk efisiensi, penghematan, dan konsolidasi fiskal.
Source: Republika April 11, 2026 14:31 UTC