Shinta menyebut, dalam hal ini Indonesia perlu memetakan kepentingan. Akibatnya, produksi besi-baja-alumunium Indonesia masih lebih mahal 15 persen-20 persen di atas harga internasional. Ini menyebabkan seluruh rantai produksi nasional yang merupakan turunan dari industri besi-baja-alumunium atau industri yang menggunakan besi-baja-alumunium, seperti industri otomotif menjadi ikut tidak kompetitif. Ketiga, Industri besi-baja-alumunium Indonesia masih belum bisa memproduksi beberapa jenis besi-baja spesifik seperti besi-baja ringan dan tipis dengan ketahanan tinggi yang diperlukan oleh industri otomotif. (Ghina Ghaliya Quddus)Berita ini sudah tayang di Kontan.co.id dengan judul Perang dagang AS-China, apa yang harus dilakukan Indonesia?
Source: Kompas March 25, 2018 22:07 UTC