Menurut Financial Times, Trump juga 'sangat marah' saat melihat harga minyak dunia sempat menyentuh 120 dolar AS per barel pada Senin. Kepanikan di Gedung Putih mengekspose sebuah kesalahan perhitungan mendasar dari pemerintahan AS saat ini. Namun demikian, lonjakan harga minyak dunia pada Senin lalu telah membuat kaget kalangan Gedung Putih. Menurut poling Quinnipiac, lebih dari 70 persen pemilih mengekspresikan kekhawatiran mereka bahwa perang akan mengerek harga minyak dan gas. Adapun, juru bicara Gedung Putih Taylor Rogers menegaskan bahwa kenaikan harga minyak bersifat sementara, sambil menyebut pandangan Trump atas kenaikan harga minyak sebagai "disrupsi jangka pendek".
Source: Republika March 11, 2026 23:48 UTC