Berlanjutnya kontraksi harga acuan CPO tersebut disebabkan masih dibatasinya penggunaan minyak kelapa sawit di Uni Eropa (UE) yang menyebabkan pangsa pasar CPO global menjadi terbatas di tengah masih terjaganya pasokan CPO. Penurunan juga terjadi pada pertumbuhan nilai ekspor CPO yang mengalami perlambatan dari 58,85 persen (yoy) pada awal tahun menjadi 53,77 persen (yoy) saat ini. Padahal pada triwulan pertama tahun ini ekspor CPO Kaltim sudah tumbuh 57,42 persen (yoy) dibandingkan triwulan IV 2018. Senada, Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono mengatakan, harga CPO melemah lantaran ekspor minyak sawit ke Eropa masih teradang kampanye hitam. Jika pertumbuhan ekonomi Tiongkok bakal membaik ada harapan ekspor CPO bertumbuh.
Source: Jawa Pos July 23, 2019 03:22 UTC