Batu “saron” yang berongga di bagian tengahnya dan berlubang di salah satu ujungnya itu juga berhiaskan ukiran di sekujur dinding luarnya. Sugihartono mengatakan nama Watu Sigong diambil dari kata dasar gong yang merujuk pada bentuk sebelas batu bulat tersebut. Yang dia tahu, selama ini beredar cerita di kalangan warga sekitar bahwa pada malam-malam tertentu sering terdengar bunyi tabuhan gamelan dari kejauhan dan sumber suaranya dari Petilasan Watu Sigong. Jika bernyali menyusuri sungai yang berkelok-kelok di bawah Petilasan Watu Gong, sekitar 200 meter ke arah selatan, pengunjung akan sampai di Umbul Kroman. Di Umbul Kroman yang berkedalaman sekitar satu meter itu Tempo menyempatkan beristirahat sembari menikmati dinginnya air jernih yang mengalir ke sungai di samping Embung Mranggen.
Source: Koran Tempo October 29, 2017 04:52 UTC