Barangkali inilah puisi Sapardi yang paling banyak menjadi kawan bagi korban panah asmara hingga buaya lupa daratan. Mereka yang percaya Sapardi adalah sastrawan cinta mesti lebih banyak membaca. DukaMu Abadi (1969), Mata Pisau dan Akuarium (1974), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), Hujan Bulan Juni (1994), hingga Ayat-Ayat Api (1999) hanyalah sekelumit karya Sapardi. Penghargaan Sastra Dewan Kesenian Jakarta (1984), SEA Write Award (1986), hingga Anugerah Akademi Jakarta (2012) adalah beberapa penghargaan yang pernah Sapardi terima. Di panggung pertunjukan, salah satu judul puisi Sapardi pernah menjadi karya Teater Garasi, Yang Fana Adalah Waktu Kita Abadi (2015).
Source: Jawa Pos July 19, 2020 06:22 UTC