Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI), Cucu Sutara, mengatakan, sudah menyerah dalam hal penyediaan garam untuk kebutuhan dalam negeri. Karena garam ini merupakan komponen yang tidak bisa disubstitusi," katanya. Namun, hasilnya pemerintah seolah tutup mata akan kondisi yang dialami industri yang telah berkontribusi sebagai penyumbang devisa mencapai 20 miliar dolar Amerika. Selama ini, kata dia, ia mendapatkan garam dari Cirebon, Indramayu dan Surabaya, tapi mereka tidak memenuhinya karena tidak ada barang. Produsen garam dari PD Sumur Sari, Ook Hermanto, mengatakan, petani tak bisa produksi garam akibat cuaca yang tidak menentu sejak awal tahun.
Source: Republika July 09, 2017 06:22 UTC