"Kami membagikan awal dari rencana kami untuk mengubah cara orang dapat mengidentifikasi diri mereka di Twitter, dimulai dengan verifikasi dan meminta publik untuk memberikan masukan tentang draf kebijakan verifikasi baru kami," ujar Twitter dalam postingan blog resminya, Selasa, 24 November 2020. Twitter menghentikan program verifikasi publik tiga tahun lalu, setelah mendengar tanggapan bahwa sistem ini justru membingungkan banyak orang. Dengan mengajak pengguna untuk memberi masukan tentang draf kebijakan verifikasi, Twitter ingin memastikan bahwa sebagai layanan terbuka, aturan akan mencerminkan suara orang-orang yang menggunakan platformnya. "Kami juga telah menambahkan kriteria yang diusulkan untuk secara otomatis menghapus verifikasi dari akun, jika misalnya tidak aktif atau jika profil tidak lengkap, serta alasan untuk menolak atau menghapus verifikasi dari akun terkualifikasi tertentu yang ditemukan melakukan pelanggaran Peraturan Twitter berulang kali," ujar Twitter. Versi kebijakan ini menjadi titik awal, dan Twitter berencana memperluas kategori dan kriteria verifikasi secara signifikan selama tahun depan.
Source: Koran Tempo November 25, 2020 01:18 UTC