KAMPALA, KOMPAS.com - Uganda mengakui bahwa pasukan keamanannya telah membunuh lebih dari 100 orang dalam serangan di istana pemimpin suku pada tahun lalu. Pernyataan itu merevisi jumlah korban tewas, yang sebelumnya disebutkan hanya puluhan orang. Namun, mereka membantah tuduhan kelompok hak asasi, yang menyatakan anak-anak termasuk di antara korban tewas, seperti dilaporkan Reuters, Kamis (16/3/2017). Laporan kekerasan menunjukkan keadaan yang lebih buruk daripada yang dinyatakan sebelumnya, kondisi ini dapat meningkatkan rasa khawatir di antara sekutu Eropa-nya Uganda. Anggota parlemen Uganda mengajukan petisi kepada Pengadilan Kriminal Internasional yang berkedudukan di Den Haag, Belanda, untuk menyelidiki kasus kekerasan itu.
Source: Kompas March 16, 2017 14:15 UTC