"Dalam jangka panjang, stunting berdampak negatif untuk kecerdasan anak dan juga meingkatkan risiko anak untuk terkena penyakit tidak menular,” kata Daeng. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga dengan angka prevalensi stunting tertinggi di Asia pada tahun 2017, yaitu 36,4 persen. "Meski angkanya menurun, namun prevalensi stunting selama 10 tahun terakhir masih tinggi dan belum menunjukkan perbaikan yang signifikan," tandas Daeng. Pada 2018 prevalensi stunting mencapai 30,8 persen, artinya 1 dari 3 balita (1/3 balita) mengalami stunting atau kerdil. Menko PMK Percepat Penurunan Stunting dan KemiskinanSelain stunting, IDI juga menyosialisasikan kesehatan reproduksi remaja.
Source: Suara Pembaruan November 24, 2019 11:37 UTC