Pertanyaan ini akhirnya terjawab setelah para ilmuwan NASA mendeteksi kemunculan "hujan plasma" mengalir di permukaan matahari. Hujan yang tentunya bukan berupa air itu akhirnya dapat menjelaskan mengapa atmosfer di permukaan matahari lebih panas dibanding permukaan bintang. Kalau hujan di Bumi jatuh ke tanah berupa air, maka hujan di matahari bentuknya lebih mirip roda berputar dan berupa tetesan plasma panas yang jatuh dari atmosfer luar matahari (korona) ke bawah menuju permukaan bintang. Bedanya dengan hujan di Bumi, hujan plasma matahari memiliki suhu sangat panas yang mencapai mencapai jutaan derajat Celsius. Sebelumnya para ilmuwan terus mencari tanda tentang hujan korona dalam fitur lebih besar, loop-magnetik-loop alias helmet streamers yang membentang jutaan mil di permukaan matahari.
Source: Kompas April 16, 2019 01:30 UTC