"Ada yang mengat akan saya murtad, halal darahnya, minta bertobat, mengumpulkan uang receh, seolah-olah saya menjual akidah saya dan tekanan-tekanan yang sifatnya sangat tidak perlu," papar Ishomuddin di Bakoel Kofie, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (6/4). Menurut Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu, ancaman dan teror yang menimpanya merupakan proses demokratisasi yang belum matang di tanah air. "Ketika ada yang menyerang, yang diserang bukan argumentasi-argumentasinya yang sifatnya ilmiah. Akan tetapi persoalan-persoalan yang sifatnya pribadi," sesalnya. Tapi saya abaikan dan saya anggap itu risiko dari keputusan yang saya anggap benar," pungkasnya.
Source: Jawa Pos April 06, 2017 14:37 UTC