Runtuhnya masa kejayaan kopi Jawa selama 1,5 abad itu ternyata hanya karena masalah sepele, yaitu ketidakmampuan pemerintah kolonial Belanda mengatasi serangan jamur Hemilia vastatrix. Hancurnya industri kopi Jawa yang berbarengan dengan meningkatnya konsumsi kopi di Amerika menyebabkan harga kopi dunia melambung tinggi. Pada 1706, setelah para ahli botani di Amsterdam menyatakan kopi Jawa berkualitas tinggi, benih kopi Jawa disebarkan ke kebun-kebun botani di Eropa. Menurut Joko Sindoro, petani kopi robusta dari Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, budidaya kopi robusta jauh lebih mudah dibandingkan kopi arabika. Selain membedah buku The Road To Java Coffee dan mempertemukan para pegiat kopi Jawa dari berbagai daerah, Jagongan Ngopi Neng Solo juga membagikan 3.000 cangkir kopi gratis asal Jawa Timur, Tengah, dan Jawa Barat.
Source: Koran Tempo October 02, 2016 10:18 UTC